Selamat datang burung sore yang kembali menelan waktu untuk bersemayam dalam malam. Selamat..Selamat....waktu telah kau taklukan dengan kemenangan perut yang kenyang. Sekali lagi, Selamat, Burung!
![]() |
Aku bicara dengan kata-kata yang mungkin keras. Mungkin. Terserah apa katamu. Kali ini aku harus lugas terhadap kedewasaan kata-kata untuk menghentak jiwa masih yang mendekam dalam diri sendiri. Lepaslah. Lepaslah dari rangkulan yang tak memberi waktu untuk terbang melintasi hidup yang bercorak.
Terserah apa katamu. Jikalau suatu saat, aku menuliskan suatu hal lain yang mungkin tak di idamkan. Pahit. Tapi pahitnya obat adalah penawar nyeri. Bila aku mendobrak dengan kata-kataku. Diamlah. Kalau pun ingin mengoceh. Aku akan menyerahkan padamu. Sebab hidup tak semudah yang kau bayangkan. Jika diam yang kau lakukan.
Waktu
telah bersiap dengan pedangnya untuk menghunusmu. Ia tak kenal kompromi soal
mati. Kau tak bisa mempercepat atau memperlambat barangkali hanya sedetik saja.
Bila kau tak terbiasa belajar dan mempelajari kehidupan. Bagaimana akan ada
kesiapan menjemput datangnya izrai’il yang hanya bersedia sms atau
menelponmu dengan isyarat.
Hey.....dengarlah.
Jikalau kau kini ditetesi, dituangi atau digrujuk air yang harusnya
menentramkan jiwa namun yang terjadi malah membuatmu pingsan atau lari tunggang
langgang karena malu.
Aku hanya
ingin menulis sesuatu yang akan mencamkan diriku sendiri dan menjadi guyuran
inspirasi untuk kegagahan menghadapi hidup dengan pelik. Jikalaupun kau tak
suka. Itu terserah dirimu sendiri. Aku ingin menulis penyejuk jiwa meski dengan
bentakan yang mengagetkan hati.
Jangan
pernah berprasangka buruk yang akan memperburuk keadaan diri sendiri. Kau butuh
hal-hal yang aku tulis dan menentramkan jiwamu. Sadarlah....kau ini aku. Jangan paksa aku mengikutimu.Dan paksalah dirimu mengikutiku. Akulah yang benar.
Karena aku nurani. Dan kau adalah nafsu. Aku siram kau dengan telaga kesejukan.
Bismillah. Allahu akbar. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Wa ala ali
sayyidina Muhammad. La hawla wala quwwata illa billah.
Assalamualaina wa 'ala 'Ibadilahissholihiin
Ahmad Yusuf Tamami Bin Muhammad Mushlih Al Hajj Ibnu Maskur
Aku sadar kok, kalu aku ini kamu.. :)
BalasHapushadah.....
Hapuskeren bang, kita harus terbiasa untuk mempelajari kehidupan agar kita siap ketika izrail dtang untuk menjemput kita, tulisannya jga udah menjadi inspirasi :)
BalasHapusamiin
HapusIni pencerahan di malam sabtu yang bagus nih, ketengan jiwa dengan cara berwhudu yang baik dan benar mungkin salah satu jalan untuk memiliki jiwa tentram ;)
BalasHapusiyo2 wes, tak elok'i pengenmu
BalasHapusIya, bang. Tulislah apa yang telah dipikirkan.
BalasHapusTerkadang, melalui tulisan bisa membuat pikiran dan hati menjadi tenang.
gue nggak ngeri mot udah gue baca dua kali lohh hehe
BalasHapusterserah ajah deh -_-
Wah-wah.. asyik mas bro!!
BalasHapusEh, salah.. pak ustad!!
Aku suka tentang yang obat-obat itu, ‘menyakitkan dan menyembuhkan’
Nafsu, iya juga. Dituruti semakin menjadi-jadi.
bagus banget gw langsung makjlebb lohh tersanjung -_-
BalasHapuspencerahan bgt nih! Yep tulislah apa yg km pikirkan... Krn itu bnar2 dr hati :D
BalasHapuspencerahan banget..karena di kenyataannya kita lebih sering ngikutin nafsu tanpa mikir2 lagi...
BalasHapusberasa jlebb tapi bagus mot..
Bahasa lo tingkat tinggi ya..
BalasHapusGue udah coba baca pelan2, ending2nya gak paham Mot..
Dasar cowok! Selalu bikin orang bertanya-tanya maksudnya apaan