Cara berfikir
manusia tidak mungkin ada yang persis. Apalagi sudut pandang pada suatu
permasalahan pun berbeda. Maka, sangat dan pasti akan ada pemikiran yang
berbeda ketika menghadapi permasalahan, meskipun permasalahannnya sama
sekalipun.
Sangat diperlu
dimaklumi kalau ada perbedaan pendapat. Itu sudah menjadi sunnatullah
kehidupan. Dari otak yang berbeda, mustahil mengeluarkan pemikiran yang sama
persis. Tidak perlu ada saling tuding dengan merasa apa yang menjadi
pemikirannya paling benar. Pun tidak perlu saling cakar hanya karena
pemikirannya tidak diikuti. Toh dari perbedaan pendapat dan pemikiran itulah
yang membuat hidup semakin inovatif dan tidak monoton.
Tidak ada yang
perlu dipermasalahkan dari perbedaan pendapat. Bukankah sama halnya dengan menghargai
pemikiran yang muncul dari tiap-tiap otak yang dianugerahkan oleh Allah kepada
manusia. Demokrasi dalam sebuah pilihan.
Tapi bangsa
kita Indonesia terlalu sering DISERAGAMI hingga beda sedikit saja sudah tak
enggan angkat padang untuk perang. Tengok saja apa yang terjadi selama ini di
negeri sendiri. Banyak golongan mayoritas yang menindas kau minoritas hanya
karena perbedaan pendapat. Pun juga anggapan sesat yang dibangsa ini terlalu
mudah melayang. Tidak begini, tidak menganut ajaran ini, tidak menganut golongan
ini, sesat, kafir.
Kalau Islam
sama-sama Islam. Mengakui Allah sebagai Tuhan, dan Rasulullah sebagai utusan
Allah. Seharusnya tak perlu ada saling tentang hingga musuhan. Referensi ajaran
banyak kok dalam Islam. Jadi tak perlu saling tuduh sesat, salah atau yang
bagaimana-bagaimana. Ijtihad dalam suatu permasalah beda kan bukan masalah. Bukankah
itu juga banyak terjadi dikalangan ulama terdahulu. Bangsa kita perlu belajar
banyak tentang perbedaan pendapat.
Indonesia sudah
pernah “kedatangan” seorang manusia luar biasa yang memiliki sikap
kontroversial 24 karat untuk mengajari Indonesia bersikap. Ya, tak salah lagi,
K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Wallahu
a’lam, Gus Dur merupakan “pelajaran dan pengajaran” yang paling keras dari
Allah untuk bangsa ini.
Mulai zaman kerajaan
hingga “raja” soeharto, bangsa ini tidak pernah diajari untuk berbeda. Bahkan yang selalu
dididikkan oleh para penguasanya-terutama penguasa orde baru-adalah
penyeragaman (ingat kuningisasi yang yang digalakkan seperti halnya korupsi,
koneksi, nepotisme, pelecehan hukum, dsb). Hingga tanpa terasa, di republik ini
perbedaan yang paling fitri pun masih dipandang sebagi hal yang angker.
Perbedaan sekecil apapun disini menjadi masalah. Oleh karena itu, jangan heran
bila demokrasi disini masih hanya terus -atau baru- menjadi impian dan slogan.
Bagaimana demokrasi bisa hidup dinegeri diamana bangsanya tidak mampu berbeda ?
Penjelasan
tentang kefitrian perbedaan dari agama sendiri seolah-olah tidak mempan
menginsyafkan kaum beragama di negeri ini ;kemungkinan besar ya akibat
pendidikan penyeragaman yang begitu lama dan intens itu.
Barangkali –dan
mudah-mudahan- karena sayang Allah kepada bangsa ini, Ia pun terus
‘mengingatkan’ dengan setiap kali memperlihatkan fenomena-fenomena
kontroversial yang –betapa pun ingin kita menyeragamkankan- tak pernah dapat
menyatukan pandangan kita.(Gus Mus)
Inilah yang
perlu disadari. Bahwa perbedaan pendapat itu adalah sesuatu hal yang sangat
diperlukan bagi kehidupan. Maka tak perlu saling kecam antar golongan, ajaran
atau yang lainnya. Perbedaan adalah fitrah
Wallahu A’lam
beda itu indah..
BalasHapuskalo pendapatnya sama semua gimana kita bisa tau mana yang terbaik kan?
yang paling penting, kita harus saling menghargai
IYA.,....hal tersebut harus benar2 tertancap di dada orang indonesia..agar tak ada lagi ada keributan hanya karena beda pendapat
Hapussaya setuju dengan permaisuri.. Singkat dan bermakna :D
Hapush oh...sep banget ya
Hapuskarna perbedaan itu indah. hanya tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. tanpa perlu memandangnya dengan sebelah mata,
BalasHapusiya....maka dar itu harus ada kesadaran bahwa perbedaan itu fitrah
Hapusperbedaan itu yg akan menyatukan kita ;)
BalasHapusho oh..setuju banget gua
Hapusperbedaan itu yang akan membangun ...
BalasHapustapi emang rada susah menyatukan perbedaan
ya gak harus disatukan juga sih sebenernya...
Hapusyang penting toleransi aja
Semoga beda tak menimbulkan perpecahan dan Sara. Karena hakikatnya beda adalah rahmat untuk alam:)
BalasHapusiya,,,,,
Hapusmemang harusnya berbeda yak
Smoga selalu damai dalam beda :)
BalasHapusAmiin...belajar dalam beda
Hapusemang susah menyatukan yg berbeda pendapat...
BalasHapusapalagi jika masing2 orang menganggap bahwa pendapatnyalah yang paling benar...
iya..ini pr bangsa indonesia
Hapusharus berusaha keras menurunkan tensi emosi
betul banget tuh, justru dgn perbedaan itu kita jadi bisa bersatu,,aseeekkk :)
BalasHapushooh....tapi kalau emang bisa..ehehehe
Hapussabda nabi "Ikhtilafi Ummati Rahmat" , perbedaan pendapat antar umatku adalah rahmat..
BalasHapusjadi sudah jelas perbedaan pendapat itu penting. jika tidak ada beda pendapat, mungkin dunia ini lebih kacau balau
ho oh....luar biasa boy
Hapusho oh..yang penting yakin ajah yak
BalasHapusInilah yang perlu disadari. Bahwa perbedaan pendapat itu adalah sesuatu hal yang sangat diperlukan bagi kehidupan. Maka tak perlu saling kecam antar golongan, ajaran atau yang lainnya. Perbedaan adalah fitrah .
BalasHapusgue suka kalimat itu .
perbedaan itu bukan jembatan permusuhan, melainkan pemacu sikap kita dalam menyikapi perbedaan tersebut :)
he em...makanya butuh toleransi tingkat tinggi
Hapus