Kehidupan
semakin maju dengan berbagai penemuan yang ada. Tekhnologi yang ada saat ini
semakin canggih. Ada rasa kekhawatiran dari berbagai pihak tentang
keberadaannya yang dalam satu sisi bisa dianggap sebagai hal yang positif,
namun tidak bisa dipungkiri, disisi lain juga bisa menjadi sebuah hal yang
bersifat negatif.

Kalau
ditelisik dari sisi ini. Tentu apa yang ada saat ini, dengan berbagai perkembangan
dan fasilitas yang ada. Tertinggal soal berfikir tentu adalah sebuah hal yang
aneh, sangat aneh. Kemampuan intelektual generasi muda saat ini, dimasa
mendatang harus lebih luas dari generasi yang ada sekarang. Semakin banyak buku
yang ditulis, fasilitas semakin mudah didapat.
Salah satu hal
yang tidak bisa dipungkiri dan telah mengalahkan kita, dengan apa yang telah disediakan
untuk menjadi orang yang cerdas adalah malas. Tak lagi bisa dibantah. Ini
permasalahan universal dari berbagai orang. Alasan karena tak punya waktu
sepertinya terlalu naif untuk dijadikan dasar. Sesempit apapun itu, manusia
tidak pernah tidak untuk diberi waktu longgar dalam mempelajari suatu hal.
Saya sendiri
sadar, bahwa tingkat intelektualitas yang rendah terhadap suatu ilmu, itu murni
kesalahan saya sendiri yang tidak bisa me manage
waktu sebaik mungkin. Bukan tak punya waktu. Tapi kurang cerdas me manage waktu. Tentu ini adalah kesalahan
diri saya pribadi. Sedang berbagai hal telah disediakan untuk memperluas
wawasan kita tentang berbagai hal.
Seolah-olah
kehidupan dan pengetahuan bisa direngkuh dengan sekali kedip, instan. Ghirah kita terhadap ilmu pengetahuan
yang akan dituai apa yang telah diusahakan. Keinginan kita hanya diam tanpa
bergerak, santai dirumah, bermain, tapi kita ingin punya pengetahuan yang luas.
Hal ini adalah bagian dari mimpi yang sama sekali tidak realistis.
Manusia punya
otak potensial yang selama ini “tak terpakai maksimal”. Bahkan sekelas Einstein
pun dikatakan hanya menggunakan sekitar 5 % dari kemampuan otaknya. Dan kita?
Nol koma berapa yang kita pakai? Kita terlalu terlena dengan apa yang ada.
Seolah hidup hanya soal kenikmatan. Hidup dalam takaran individu. Tanpa harus
berfikir hal-hal yang bersifat sosial. Sekali lagi, satu hal yang tak bisa kita
pungkiri adalah, malas. Kita mendzolimi diri sendiri dengan apa yang sudah kita
lakukan terhadap otak kita. Sadarkah kita tentang kedzoliman yang kita lakukan
terhadap diri kita sendiri?
Buku bisa
dibaca di handphone, cari referensi tinggal ketik, berbagai pengetahuan di
google ada. Lantas alasan apalagi yang akan kita ajukan sebagai dalih ketika
kita tidak memiliki ilmu pengetahun dan wawasan yang luas? Kita terlalu terlena
dengan keadaan. Dan waktu yang ada kita buang dengan sia-sia tanpa tholabul ‘ilm.
“Pengorbanan
untuk sebuah cinta, tak akan pernah terasa. Sebab apa yang dilakukan semata untuk kehidupan itu sendiri.
Itu pilihan, pengorbanan pun pilihan. Dan takut tak meraihnya lantas tak pernah
melakukan sesuatu adalah bukti kepengecutan. Termasuk pengorbanan cinta pada
keilmuan
Sedang
berusaha memanfaatkan moment
Salam
Moti
Peacemaker
malas memang selalu menjadi hambatan untuk menjadi disiplin. malas membuat seseorang gagal me manage waktu. bener moti, sebenarnya dengan teknologi yang sebra canggih ini dan bisa diakses dimana saja dan kapan saja bisa membuat kita jadi lebih mudah mendapat pengetahuan secara luas malah. ah, sia-sia sekali waktu ku selama ini yang hanya dilewatkan dengan terlalu banyak menurutkan 'malas'. :(
BalasHapusDamn you moti. Baik sekali. Dengan malas kita sudah mendzalimi diri sendiri dan sekali lagi alasan tidak punya waktu itu adalah bullshit. Itu karena kita saja yang terlalu lemah untuk produktif.
BalasHapusSekali lagi, damn you moti. Sudah menyadarkan. :))
seperti biasa Mot, gue salaut dengan apa yang lu tulis, soalnya mengena bangettt.jaman sekarang karena serba mudah malahan bikin manusianya maunya serba isntant dan ya gitu,,,bikin manusia jadi makin malas dan nggak mau berusaha...toh ibarat kate sekarang mau belajar jga tgal donlod pdf ga perlu ke perpus mana nyari nyari bukunya...cuman, mentalnya jadi berubah...ahh, semoga kita bsa menggunakan ke'gampangan' yang ada dengan bijaksana ya, biar ga ikutan ke alur 'malas'..
BalasHapus