Rabu, Februari 20, 2019

,
Tuhan menakdirkan sepakbola "lahir" di dunia dan kita menyaksikan aneka fenomena mengasyikkan sekaligus menjengkelkan darinya. Sebagaimana tiap-tiap fenomena yang diizinkan oleh Tuhan beredar di sepetak tanah milik-Nya, sepakbola adalah sebuah paradoks. Sebuah paradoks selalu memiliki dua muka, sekeping koin yang punya wajah berlainanan. Untuk itu, setiap pekannya, kita menyaksikan kemenangan dan kekalahan, teriakan bahagia dan raut kecewa para pemain dan pendukungnya.

Di satu waktu, kita mendapat kabar bahwa calon pemain Cardiff City, Emiliano Sala mengalami kecelakaan pesawat sampai akhirnya ditemukan sebagai mayat, di tempat lain kita melihat postingan teranyar Cristiano Ronaldo di jet pribadinya yang super mewah. Yang lebih sering adalah, media-media melejitkan nama-nama pemain muda dengan bakat istimewa dan kita mulai melupakan pemain-pemain tua idola. Tidakkah siklus fenomena dalam sepakbola itu seperti halnya kehidupan yang kita jalani? Ada yang berduka, ada yang gembira, ada yang datang, ada yang dikenang.

Kita melihat Maurizio Sarri yang menyulap Napoli menjadi tim dengan permainan atraktif, enerjik sekaligus produktif, satu-dua musim lalu. Hari ini kita menyaksikan kebalikannya, Chelsea besutannya diisin-isin Bournemouth dengan skor telak 4-0, dinggo dolanan Manchester City 6-0, diklitek raine oleh Manchester United 0-2 di hadapan para pendukungnya sendiri di Stamford Bridge.

Kehidupan adalah rangkian fenomena. Keseimbangan antara mesem marem dan kesedihan. Tepat sekali Tuhan menyatakan bahwa dunia adalah tempat main-main dan senda gurau belaka. Meski demikian, main-main dan senda gurau kita hendaknya tetap menghasilkan tiket untuk balik ke "kampung halaman".

Bahwa sepakbola diizinkan ada, bahwa kita diperkenankan menikmatinya. Adalah sepercik cinta dari samudera cinta Tuhan kepada hambanya.

‎يا ابن آدم أنا لك محب فبحقي عليك كن لي
‎محباً

Wahai anak Adam, Aku sungguh mencintaimu.
Maka demi hakKu atasmu, jadilah engkau orang yang cinta
kepada-Ku.

Jika bahwa MU tak sanggup melewati PSG di 16 besar Liga Champions, Ya Alloh. Sugguh, aku tetap mencintaimu. Jika Engkau loloskan, Ya Alloh. Bertambah-tambah cintaku!

Jumat, Desember 28, 2018

,

Dulu, ketika persaingan Ronaldo dan Messi dalam mengabsahkan diri mereka menjadi pemain terbaik dunia, orang-orang pecinta bola sejagad ikut mengukuhkan salah satu dari meraka yang lebih pantas menyandangnya. Ya wajar kalau mengunggul-unggulkan, sekalipun toh pada proses penentuannya tak terpengaruh oleh komentar pakar di media masa, apalagi cuma komentar yang berseliweran di media sosial.
Persaingan keduanya barangkali sesungguhnya lebih sederhana dari apa yang digambarkan media. Toh media tak melulu soal informasi, tapi juga bisnis yang membutuhkan kejutan dan “kehangatan” berita. Pembaca berita mengobral pemahamannya di media sosial dengan bumbu tendensi dan asumsi yang menyalakan kondisi yang sebelumnya baru “hangat” jadi “berkobar”. Pada posisi seperti ini, ada 2 kubu yang pada akhirnya akan saling bersinggungan.
Fanatisme memblokade obyektifitas mereka sendiri untuk membuka mata soal kemampuan pesaing idola mereka. Orang-orang yang menjuluki Criastiano Penaldo untuk menggambarkan kemampuan mantan bintang Real Madrid yang banyak mencetak gol dari titik putih. Meski toh pada kenyataannya, Ronaldo dan Messi memiliki rasio tendangan dari titik putih yang tak jauh berbeda. Bahkan Messi lebih sering gagal. Pun orang-orang yang pro-Ronaldo mencari celah untuk menjatuhkan Messi.
Pada fase ini, sesungguhnya komentar negatif itu telah keluar dari permasalahan soal siapa yang terbaik. Melihat ini, orang-orang sepertinya menginginkan adanya ketimpangan dalam kemenangan meraih predikat pemain terbaik untuk idola mereka. Pesaingnya harus kalah telak. Harus jauh lebih buruk.
Maka, kalau kita melihat esensi sepakbola, perseteruan macam ini sudah keluar batas. Toh pada kenyataannya, pertandingan yang berlangsung sengit dan fair akan memberikan tontonan yang jauh lebih menarik daripada pertandingan yang timpang. Orang-orang melihat El Clasico karena menganggap kedua tim punya kemampuan yang sama-sama hebat untuk diadu. Maka layak jadi tontonan yang menarik. Semestinya persaingan 2 pemian terbaik, dengan kemampuan yang mereka miliki, adalah edit value untuk menjadikan persaingan keduanya yang layak diikuti. Katakanlah, Messi atau Ronaldo melawan pemain dari Zimbabwe, apa serunya? Karena pemenangnya sudah jelas.
Jadi untuk apa menurunkan kualitas kemampuan lawan saing? Sekali lagi, pertandingan menarik karena keduanya punya kemampuan yang bisa diadu.
Pun dengan Pilpres yang menimbulkan persinggungan yang sedemikian membara sampai akar rumput. Kita melihat berseliweran komentar salah satu kubu pada lawan politik yang bersifat menjatuhkan. Menjelak-jelekkan lawan. Menggunakan serangan untuk mengubah pandangan pada salah satu kubu menjadi negatif. Cara ini, sama halnya mencari lawan yang tidak sepadan. Karena pada sisi lain, pasti ada kubu yang diunggul-unggulkan.
Dalam hal ini, titik yang paling ditakutkan oleh salah satu kubu, adalah kekalahan. Tapi mau bagaimanapun, pasti ada pemenang, dan pasti ada yang kalah. Artinya, akan ada kubu yang gigit jari, bahkan mungkin tidak terima.
Pada akhirnya, semua harus kembali ke akar dan tujuan. Pilpres diadakan untuk memilih siapa yang terbaik dari yang terbaik. Atau katakanlah, memilih yang mendingan daripada yang parah. Yang pasti, tujuannya adalah kebaikan untuk Indonesia. Ketika salah satu kubu yang menang, dan sudah terlanjur ada yang mengklaim bahwa pemenangnya adalah sosok yang buruk. Hancurlah kita. Perseteruan pasca pilpres akan terus berlanjut sampai pilpres berikutnya. Karena yang dituju, tidak lagi yang terbaik, tetapi soal kepentingan dan merasa lebih baik.
Ini akan menjadi berbeda, apabila cara yang digunakan menggaet pemilih adalah menunjukkan kualitas kubu yang didukung, tanpa menjelekkan kubu yang lain. Jika itu yang dilakukan, maka semua akan menerima apa yang terjadi. Dan karena keyakinan bahwa yang lain juga baik, juga ingin memberikan kontribusi pada Indonesia, yang kalah tinggal memberikan dukungan dan dorongan, serta arahan yang sifatnya membangun. Bukan menjatuhkan.
Pilpres bukan soal siapa yang baik, siapa yang buruk, tapi siapa yang lebih pantas memimpin. Bahwa ada kekurangan, itu soal-soal bawaan manusia. Yang jadi soal, biasanya bukan kekurangan. Tapi perbedaan cara pandang terhadap sebuah kebijakan yang diambil. Lantas perbedaan cara itu tidak bisa disikapi dengan bijak. Selenjutnya, tinggal menunggu konflik.
Tapi pasca orde baru, sepertinya Pemerintah menunjukkan sikap terbuka  terhadap kritik dan saran. Pemerintah tidak melarang ada kritik, dan faktanya tidak ada orang yang hilang ketika mengkritik. Saking terbukannya, bahkan akhir-akhir ini kritiknya sampai melebihi batas. Artinya, ketika i’tikad itu disampaikan dengan baik, dengan etika yang elegan, dengan aturan semestinya, dan tepat sasaran, ada kemungkinan untuk diterima dan bisa diterapkan.
Selagi tidak ada tendensi yang macam-macam. Calon presiden kita, Insya Alloh menginginkan kebaikan untuk Indonesia. Kedua-duanya barangkali tidak jelek, meskipun mungkin baru proses menuju baik. Tapi yang pasti, tak layak kubu yang satu menjelekkan yang lain. Apalagi sampai tidak mengakui ada kebaikan pada diri kubu yang lain.
Jadi, apa istimewanya Messi menang dengan pemain Zimbabwe. Dan betapa malunya jika kalah.
Begitulah.

Jumat, Desember 21, 2018

,
Selasa, 18 Desember 2018, peristiwa jalan ambles terjadi di Jalan Raya gubeng, tepat depan gedung BNI. Tidak menelan korban memang, tetapi peristiwa tersebut tentu aneh, mengingat hal itu terjadi di tengah kota. Dan tentu kejadian itu menghambat beberapa orang yang biasa melewati jalan itu ketika bekerja.



Pukul 10 malam, saya diutus oleh Romo Guru Siddi Miftahul Luthfi Muhammad untuk mencari informasi mengenai kejadian tersebut. Bersama Bapak Lurah Yang Terhormat. Saya meluncur ke lokasi. Tidak banyak informasi yang saya dapat, kecuali informasi-informasi umum seperti yang diberitakan oleh media-media portal dan koran. Khas berita. Saya tau, karena melihat secara langsung bagaimana cara mereka mengambil berita. Kebanyakan media, ternyata mengambil second news. Karena kebanyakan mereka menunggu media besar seperti Kompas dan Metro mendapatkan narasumber. Setelah itu, mereka menanyakan ulang beberapa yang sudah ditanyakan oleh media besar tersebut.
Untuk kebutuhan berita, sesuai dengan media masing-masing, barangkali sudah cukup. Dan tentu saja,  itu tidak cuku bagi media besar, apalagi yang berbasis televisi. Mereka menyiarkan secara lansgung dari tempat kejadian. Muskil bagi mereka minim narasumber dan berita.
Dari kejadian tersebut, saya mendapatkan hal-hal menarik.  
Pertama, soal bagaimana kecepatan media besar mendapatkan narasumber. Metro TV misalnya. Dari yang saya amati, mereka hanya berbekal 3 kru saja. Reporter, juru kamera, juru lampu yang merangkap juru kabel. Tapi dengan cepat, mereka bisa mendapatkan narasumber yang menarik dan terlibat langsung di dalam kejadian. Misalnya mereka mendapatkan narasumber orang yang melintas ketika peristiwa terjadi. Setelah mereka selesai, baru media lain ikut tanya-tanya di tempat yang berbeda.
Kedua, soal kesabaran. Mereka stand by mulai beberapa waktu setelah kejadian, dan belum juga meninggalkan tempat sampai pukul setengah tiga pagi. Mereka masih menunggu tokoh-tokoh penting yang bisa diwawancai. Sampai saya meninggalkan tempat (Selatan jalan tempat kejadian), belum ada tokoh yang mereka dapati informasinya.
Ada juga beberapa dari mereka yang sedikit nggerundel, karena mereka harus terjun ke tempat kejadian. Padahal niatnya istirahat sejenak. Bagaimana tidak, peristiwa terjadi pukul 10 kurang 15 menit, dan demi akurasi serta kecepatan, mereka harus segera meluncur dan melupakan istirahat.
Kedua, sense of jurnalistik. Ini yang sering disampaikan oleh Romo. Tentang hal sekecil apapun yang bisa jadi pengamatan. Karena ketika terjun ke tempat peliputan, tuntutannya adalah berita. Tidak hanya soal kualitas, tapi soal kuantitas berita dengan angle yang berbeda. Maka seluruh yang ada di tempat kejadian adalah sumber berita. Bagaimanapun caranya. Saya melihat hal itu, dan sedikit banyak, mendapatkan dari apa yang mungkin luput dari media.
Sampa saat ini, kejadian tersebut masih didalami penyebabnya. Meskipun ada indikasi dan besar kemungkinan merupakan kesalahan proyek yang dilakukan oleh RS Siloam. Dan menurut informasi yang saya dapatkan dari Satpam Kantor Kompas, pembangunan yang tersebut memang berdampak pada bangunan di sekitar proyek. Menurutnya, proyek yang berlangsung sekitar 2 tahun lalu itu terasa sangat menganggu ketika awal penanaman paku bumi. Bahkan plavon Kantor Kompas pernah pecah karena proyek itu. Ia juga menuturkan, bahwa proyek itu menjadikan saluran air terganggu. Seringkali air mati, bahkan tak jarang airnya keruh.
So, yang pasti, melihat bagaimana kerja jurnalisitik, saya harus mengacungkan jempol. Dan melihat etos pencarian beritanya benar-benar ciamik. Lobi keamanan untuk bisa mendekat, meliput lebih detail. Dan beberapa mereka gagal. Keamana  tidak mengizinkan. Bahkan sedikit melewati batas ring yang sudah dibatasi oleh police line saja diperingatkan. Sekali lagi, kinerja jurnalis memang luar biasa. Asal tanpa tendensi, informasi akan jadi penting dan berharga. Mereka berjasa untuk mereka yang membutuhkan berita akurat.

Senin, September 10, 2018

,
Pada “musibah” yang ditulis oleh Samuel Mulia di kolom “Parodi” Kompas (19/8), banyak sekali keluhan tentang kejadian-kejadian berderet yang menimpanya. Dengan rentetan itu, ia merasa tidak nyaman. Lantas memaparkan sedikit pelajaran, dari dominasi kesedihan dan kegelisahan yang menghinggapinya. Tapi dari rangkaian itu, pembaca menjadi tahu, bahwa tulisan berisi tentang kesedihan-kesedihan itu menjadi bacaan yang dianggap Kompas layak muat. Bahkan dimuat tiap minggu dengan genre yang kurang lebih sama. Dan sampai pada kesimpulan, untuk menjadi tulisan yang dianggap orang lain bagus, ada prosesi yang bahkan kadang berliku dan menyedihkan. Pembaca tak banyak tahu soal ini. Yang mereka tahu, tulisan jadi! Titik.
Pun begitu halnya dengan fotografi. Beberapa foto dan video sesi pemotretan dengan hasilnya yang aduhai itu, ternyata dilakukan dengan proses yang rumit dan bahkan lucu. Tanpa melihat sesi pemotretan itu, kita mungkin hanya akan terkungkung pada bagus dan tidaknya, tanpa menelisik bagaimana prosesinya.
Artinya, hasil memuaskan itu butuh prosesi yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada di otak kita. Melihat hasilnya yang ‘ekselen’, bayangan prosesnya terkadang sudah lumat dahulu. Tapi andaikata tahu prosesnya, malah kadang-kadang menyelepekan hasilnya. Meskipun itu bagus. Apalagi kalau jelek!
Ya, meskipun untuk beberapa hal, prosesinya malah akan menguatkan citra baik dan makin mengukuhkan hasilnya sebagai sesuatu yang benar-benar perfect. Karena bunga yang diberikan dengan proses penuh perjuangan, berbeda rasanya dengan yang ambil begitu saja di pinggir jalan.

Di era yang terbuka seperti sekarang, “memertontonkan” proses menjadi sesuatu perlu dan tak perlu. Perlu untuk keterbukaan. Tetapi soal kesiapan, nampaknya bangsa ini belum benar-benar siap. Karena pada kenyataanya, kita masih suka mengomentari proses dengan nada rendah-an. Tidak punya keyakinan terhadap prosesi yang dijalankan oleh orang lain, yang mungkin tidak sama dengan prosesi yang kita ekspektasikan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Perhitungan direferensikan dengan hitungan kita, untuk menuju pada hasil yang sama. Na’asnya, kesabaran kita masih tiarap soal ini. Belum juga hasil didapat, proses sudah dikritisi habis-habisan. Meski dalam beberapa hal, preventif macam ini juga penting. Tentu dengan koridor adab dan norma yang berlaku.
Hal tersebut tergambar dalam tulisan Ning Alissa Wahid di Kompas Minggu edisi 19 Agustus 2018. Di kolom “Udar Rasa” tulisan beliau yang berjudul “Dapur Masterchefs Politik” mengungkapkan hal-hal yang berkait denga prosesi-prosesi itu. Era keterbukaan ini menyibak prosesi perebutan kekuasaan sampai dapur. Sesuatu yang mungkin tidak terjadi di masa lalu, khususnya Orba.
Di masa lalu, tulis ning Alissa, realitas politik dan realitas publik adalah dua sphere yang berbeda. Saat mereka sedang di balik layar, perkataan dan perbuatan yang muncul dari politisi sering sekali berbeda dengan yang mereka tampilkan di panggung publik. 
Di dapur, para politisi mengolah segala sesuatu dengan cara dan sistematika yang terus tersorot media. Baik yang resmi maupun non-resmi. Mau tidak mau, siap tidak siap, masyarakat akan tahu soal prosesi-prosesi ini. Dan dari sini, akan muncul interprestasi dan tanggapan yang bermacam-macam dan beragam.
Dari prosesi itu, kita tahu lika-likunya, positif-negatifnya. Berbarengan dengan itu, kesiapan kita teruji untuk bisa mengolah diri. Toh pada akhirnya, nanti kembali pada cara kita menananggapi. Kedewasaan dan pemahaman akan membedakan segalanya.

Senin, Agustus 13, 2018

,

“Mutu kerja masyarakat ditentukan oleh mutu Pendidikan. Mutu pendidikan ditentukan oleh mutu industri media, khususnya mutu penerbitan buku-buku”
Frans M Parera menyatakan hal itu untuk membuat gambaran, betapa KKG (Kelompok Kompas Gramedia) sejak awal berdiri (1960-an) telah sadar dan menempatkan buku-buku di posisi yang layak dan terhormat (KOMPAS:  Menulis dari Dalam). Media menjadi memegang peran penting dalam perkembangan pikiran manusia. Kemajuan berpikir, dalam pandangan kapitalisme, adalah alat nyata untuk meningkatkan kinerja dan kualitas. Tetapi pada dasarnya, perkembangan pikiran manusia adalah faktor kunci kemajuan dalam banyak hal.

Tapi industri media, kini meluas. Tidak hanya buku. Dan seluruh industri itu, memegang peran penting dalam perkembangan manusia. Alat yang paling dekat tentu saja ada “industri media sosial”. Buku dan bacaan lain yang non-gawai makin tertinggal. Buku-buku masih sentral, tetapi media sosial secara nyata mengambil alih fokus mayoritas orang. Orang-orang bisa dengan cepat mengambil hp dan membuka facebook. Tapi tidak banyak yang dengan cepat mengambil buku dan membacanya.
Maka saya sangat senang dengan orang-orang yang menuliskan pengetahuan dan nasihat-nasihatnya untuk menjadi penyeimbang serta counter postingan-postingan ”unfaedah” yang berkeliaran di media sosial. Tentu tak berhonor, tapi toh mereka memberikan sumbangsih positif yang nyata. Dan nyatanya, dari jumlah komentar yang ada, tulisan-tulisan panjang itu masih banyak yang membaca. Yah, meski ada beberapa komentar yang selalu mengaitkan dengan cebong dan kampret.
Setidaknya, tulisan-tulisan itu bisa mengganti sekian persen pengetahuan yang semestinya bisa dibaca orang dari buku-buku. Dan dari membaca tulisan mereka, akan muncul rasa senang dengan buku dan mulai membacanya.
 “Jika kita ingin menjadi bangsa yang terhormat, kita harus memeras keringat dan memutar otak. Pendidikan, sekali lagi, pendidikan. Gantilah senapan dengan buku pengetahuan. Gantilah sentimen dengan pikiran dingin”. Begitu kata Prof. Rooseno di salah satu tulisannya.
Orang-orang dari berbagai pakar, yang punya ilmu dan perlu, serta layak untuk di-share, faqir-faqir di media sosial tentu juga siap untuk menampung ilmu-ilmu yang disampaikan. Toh, buat apa menyimpan ilmu di kepala dan terus mengendapkannya. Banyak orang, yang barangkali membutuhkan ilmu yang tak keluar itu.
Biasanya, orang-orang yang tidak terbiasa menulis, merasa tidak bisa melakukannya. “Tulisanku jelek” dan lain-lain. Tapi itu problem kesekian, yang terpenting adalah apa yang mereka suguhkan. Inspiring yang mereka berikan.
Saya senang dengan apa yang didawuhkan oleh @mbah being, “Tulisan yang jelek, jauh lebih baik. Daripada tulisan yang bagus, tapi hanya mimpi”. Pun yang sering dikatakan oleh pepatah-pepatah, “Buku (tulisan) yang sempurna, adalah buku yang tidak pernah tertulis”. Artinya, kekurangan itu wajar dan tulisan. Dan dalam hal apapun. Selagi kita terus mencoba dan memerbaikinya, kadar kekurangan itu, lambat laun akan semakin mengecil.
Dan tulisan yang di-share itu, bisa menjadi salah penggugur apa yang telah disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw. soal orang yang berilmu. “Tidaklah seseorang yang menghafal (memunyai) ilmu, lalu ia menyembunyikannya. Melainkan dia akan didatangkan  pada hari kiamat dalam keadaan diberi tanda dengan tanda dari api neraka
Apa yang didawuhkan beliau itu, selaras dengan kemajuan berpikiran yang merata. Karena nyatanya, kita melihat sendiri, ketidaksetaraan (pemahaman dan pengetahuan yang timpang) rentan sekali melahirkan salah paham. Orang-orang yang tidak berpengetahuan, tidak membaca, tidak punya ilmunya, berani dengan lantang mengecam orang-orang yang jelas kealimannya. Jelas-jelas pengetahuannya. Jelas-jelas kepakarannya. Kenapa? Salah satunya, karena ketimpangan ini.
Maka, mari berbagi, mari menulis.

Sabtu, Juni 30, 2018

,

Tidak ada yang mampu menampik kesuksesan Zidane menangani Real Madrid dengan treble winnernya di Liga Championsnya. Prestasi yang sangat langka. Meski barangkali, karena ia membawa gerbong besar bernama el-Real, hal itu tidak terlalu bisa dibesar-besarkan.

Real Madrid memang seringkali suka jor-joran, dan tak pikir nominal soal harga pemain. Sudah berulang kali ia menjadi klub yang memecahkan rekor pemain termahal dunia ketika membeli pemain. Mulai dari Figo, Zidane, Ronaldo, hingga Gareth Bale. Empat di pemain ini, barangkali bisa membuktikan harga yang ditebus oleh Florentino Perez (Presiden Real Madrid). 4 pemain itu, tidak bisa dipungkiri, memang punya andil besar dalam record klub. Semuanya mampu memberikan gelar juara domestik dan Champions.

Los Blancos memang sering bergelimang pemain bintang, tapi tidak semuanya berjalan dan berakhir mulus. Beberapa kali juga tidak mampu membuktikan diri. Misalnya di era Beckham, Figo, Zidane, Raul, Ronaldo Nazario, Carlos (Skuad 2003). Kumpulan pemain berlabel bintang itu harus menerima kenyataan finish di posisi 4 La Liga. Di bawah Valencia, Deportivo La Coruna, dan tentunya, Barcelona. Di liga Champions pun tak bisa banyak bicara. Perjalanan asuhan Carlos Queiroz harus tumbang di tangan As Monaco di semifinal.

Tahun-tahun berikutnya, Madrid tak berhenti membeli pemain berlabel bintang tiap tahunnya. Tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk itu. Dan toh, seperti apa yang terjadi di era Queiroz, Madrid seringkali tak mendapatkan hasil positif dari jor-joran yang dilakukan chairman, baik Perez maupun Calderon.

Pembelian pemain bintang dengan harga selangit yang dilakukan oleh Presiden klub itu, akhirnya berhenti di era Zidane. Ia memilih memanfaatkan skuat yang ada. Jika pun membeli, ia memilih pemain-pemain muda yang punya potensi besar untuk dibina dan berkembang. Cabellos, Mayoral, Llorente, Morata, dan Asensio. Nama terakhir, adalah pembelian beberapa musim sebelum Zidane. Tetapi tiap tahun harus dipinjamkan untuk memberikan waktu bermain. Zidane memoles pemain yang satu ini, memberikannya kesempatan bertahan di klub dan waktu bermain yang cukup. Seperti yang kita lihat, ia mampu memberikan kontribusi besar bagi El Real.

Jika dihitung, barangkali baru di era Zidane lah Real Madrid mendapatkan pendapatan lebih besar, dibandingkan pengeluaran. Ia menjual pemain dengan harga tinggi, dan membeli pemain baru dengan harga yang lebih terjangkau. Toh pada kenyataanya, Madrid masih bisa bicara banyak di dalam persaingan gelar juara.

Maka, ketika bursa transfer dibuka, Real Madrid cenderung adem ayem. Meski juga tidak lepas dari berbagai berita transfer.

Baru transfer musim inilah, berita transfer mulai berhembus kencang. Pembelian Neymar yang digadang oleh Perez jadi berita di berbagai media. Ada pro-kontra. Mengingat Neymar adalah mantan rival, Barcelona. Juga soal harga yang harus dibayarkan oleh pemain yang tidak mungkin dilepas oleh PSG dibawah 300 juta poundsterling.

Melihat geliat Perez, pantaslah kiranya fans Madrid yang kontra dengan transfer ini merasa sangat geram. Real Madrid punya potensi-potensi pemain muda yang sangat cerah. Waktu bermain adalah salah satu hal yang akan memberikan jalan bagi mereka untuk memancarkan cahaya. Bagi fans yang kontra, pembelian Neymar sangatlah tidak etis dan sangat perlu untuk dikritisi.

Tapi, tentulah itu mutlak keputusan Chairman. Madridista bisa mengecam dan tak setuju. Tapi Chairman tidak punya ikatan formal untuk menuruti apa yang mereka aspirasikan. Kecuali ikatan batin antara managerial dan pendukung. Itu saja. Jika hal tersebut tidak terjalin, Chairman sah untuk semena-mena. Ia punya keputusan yang sangat absolut.

Pun begitu halnya dengan pelatih. Di Bernebeu, pelatih “sah” untuk mendapatakan masukan, bahkan “intimidasi” untuk mendatangkan pemain yang ia inginkan. Salah satu berita yang berhembus soal berhentinya Zidane dari kursi kepelatihan adalah tidak sinkronnya keinginan Zidane dan Perez soal transfer klub.

Kita tinggal menunggu, apa yang akan dilakukannya Perez di bursa transfer kali ini. Melihat record yang dimiliki Lupetegui, ia barangkali punya tipikal pecinta pemain muda. Terbukti, di transfer pertamanya, ia mendatangkan Andrey Lunin, kiper yang masih berusia 19 tahun. Tapi, sekali lagi. Lupetegui tidak punya keputusan penuh. Akan terus ada campur tangan Chairman dalam setiap pilihan dan keputusan yang diambil. Dan bagi Perez yang merupakan pengelola keuangan klub, tentulah untung-rugi jadi pertimbangan yang muskil dikesampingkan.



Senin, Mei 21, 2018

,

Beberapa tahun yang lalu, blog ini hidup (2010 mungkin). Dari sekedar iseng latihan bikin blog, sampai benar-benar menikmati menulis di dalamnya. Banyak gagasan dan curahan yang saya tulis disini. Dan perlahan, saya mulai meninggalkannya. Dulu, saya bisa mengisinya 3 hari sekali. Kadang lebih, kadang kurang. Setidaknya, saya tidak membiarkannya tak berpenghuni tiap pekannya. Tapi sejak 2017, saya menulis kurang dari 10 posting. Bahkan belum sama sekali di 2018. Menakjubkan sekali.

Anehnya, saya mulai tidak menulis ketika sudah membeli domain motipeacemaker.com. beberapa tahun lalu. Setelah itu, saya malah jarang sekali menulis. Aneh sekali. Dan domain itu sekarang sudah tidak di tangan saya. Diambil orang. Akhirnya, saya harus kembali ke domain gratisan ini. Tidak apa, yang penting bisa nulis. Kalau ada kesempatan, nanti kita rebut domain itu kembali.

Menulis
Harus saya akui, disinilah awal saya belajar menulis. Semangat juga terbangun dari sini. Terinspirasi dari orang-orang terdekat. Juga orang-orang yang saya kagumi. Saya mulai suka menulis ketika kenal dengan Mbak Fina Af’idatusshofa (saya tidak tau, beliau sekarang masih menulis atau tidak, semoga masih). Saya membaca beberapa bukunya ketika masih aktif di Qoryah Thoyyibah. Masih muda ketika itu. Saya salut dengan semangatnya menulis. Sebab diusianya yang muda itu, beliau sudah menulis banyak buku.
Selain Mbak Fina, ada almarhum Mbak Maia Rosyida. Saya kenal Mbak Maia lebih dulu daripada Mbak Fin. Saya baca buku Gus Durnya di tahun 2007. Saya yang mengidolakan Gus Dur sejak kecil menjadi tertarik dengan gaya tulisannya yang renyah. Siapa yang tahu ternyata Mbak Fin dan almarhum Mbak Maia satu sekolah.
Kini, saya menulis lagi disini. Rindu rasanya. Semoga tidak hanya sekali ini saja. Saya ingin kembali mencurahkan banyak hal disini. Jika itu bermanfaat, semoga kemanfaatan itu tercurah untuk Mbak Maia Rosyida yang telah dipanggil terlebih dahulu olehNYA di usia muda. Saya menyayangimu, Mbak. Terima kasih inspirasinya, ilmu dan waktu untuk diskusi-diskusinya.

Blogger Energy
Saya sudah lama tidak bertegur sapa dengan Komunitas Blogger yang luar biasa ini. Kecuali Mbak Vera Astanti yang memang saya kenal sebelum masuk komunitas. Sesekali saya masih suka stalking grup, tapi tidak berani komentar karena lama tidak aktif. Info dari beberapa teman, Blogger Energy sudah tidak sehangat dulu lagi. Tapi semoga info itu salah. Karena banyak anggota baru, dengan energy baru yang bisa memberikan power. Dan anggota lama yang beberapa masih aktif. Tidak mudah menjaga intensitas menulis seperti mereka. Salut. Semoga masih terus berlanjut.

Di komunitas ini semangat menulis saya menanjak. Bagaimana tidak, semua orang yang ada di dalam grup ini begitu solid dan saling membangun untuk menjadi orang-orang yang punya intensitas menulis tinggi. Beberapa bahkan sudah menerbitkan buku. Kesolidtan itu yang membuat menulis menjadi luar biasa nikmat. Terima kasih banyak. 
Gagasan
Saya masih sering menulis, meski lama tidak mengisi blog ini. Tapi sepertinya berbeda. Saya merasakan semangat menulis disini beberapa tahun lalu. Mencari bahan setiap hari untuk menulis. Dan bagi orang yang hidup di desa seperti saya, itu tentu bukan hal yang biasa. Tapi saya menikmatinya. Apalagi Waskita memfasilitasi itu. Ada buku, internet dan kompeter.
Dan kini, ketika keadaan berubah, akses semakin mudah, saya malah menghentikan aktifitas saya disini. Sepertinya sangat tidak tahu diri. Maafkanlah daku. 
So, saya mungkin akan menulis kembali disini. Saya tidak berjanji. Tapi mensemogakan. Kalau tidak lagi ada yang membaca seperti dulu, tidak masalah. Saya perlu lebih banyak hal untuk memberikan porsi berpikir serius. Saya sadar, Tuhan menyematkan otak yang cemerlang. Gagasan yang brilian. Dan bila itu tidak ditumbuhkan di otak orang lain. Barangkali Tuhan bersedia menyematkannya di otak saya. Demi kemaslatahan saya, kalau bisa, orang lain juga. Yang pasti, yang dibutuhkan untuk itu adalah persiapan. Dan saya menyiapkannya dengan blog ini. Siapa tahu ya, tohMin haitsu la yahtasib

catatan:
Oh iya, saya mungkin perlu cerita sedikit soal notebook yang saya pakai menulis ini. Ketika saya masih aktif di LPBA Masjid Agung Sunan Ampel. Saya kagum dengan notebook salah satu guru dosen saya. Karena titik di huruf "i" pada tulisan Thinkpad itu menyala di belakang layarnya. Kok bisa seperti itu ya? Saya tidak berpikir terlalu jauh seperti sistem itu. Tapi jujur saya, saya kok pengen punya.
Dan Alloh mengabulkan keinginan itu. Saya diberikan oleh Romo Guru setahun lalu, notebook yang sepertinya sama persis dengan notebook dosen saya itu. Ada titik yang menyala di belakang layar. Saya baru ingat hari ini setelah dhuhur tadi. Dan langsung gunakan untuk menulis ini. 

Selasa, Agustus 01, 2017

,
Memburu pemain sampai mendapatkannya merupakan salah ciri syahwat besar Real Madrid. Harga bukan jadi soal. Itu yang membuat deretan pemain termahal dunia, di isi oleh nama-nama dari pemain el Real. Mulai Figo, Zidane, Kaka, Ronaldo, sampai Gareth Bale. Dan terakhir, yang santer dibicarakan adalah Kyrlian Mbappe. Harga yang dipatok As Monaco mencapai 180 juta poundsterling. Harga yang jauh di atas di atas harga Pogba yang menjadi pemain termahal dunia saat ini. Pemain kewarganegaan prancis bernomor punggung 6 tersebut ditebus oleh Manchester United dengan harga 89 juta poundsterling. Dan menilik performanya musim lalu, harga Pogba tidak banyak berbicara. Ibrahimovic yang dibeli dengan status free tansfer malah menjadi icon bagi Manchester menyabet title juara Liga Europe.
Dengan usia muda dan pengalaman yang belum sebanyak Pogba, pembelian mahal Mbappe tentu layak untuk disoroti. Zidane sebagai orang Prancis tentu menginginkan kompatriotnya itu bisa hadir di Bernabeu. Tapi dengan bijaksana, ia harus mempertimbangkan matang-matang pembelian tersebut. Jika menilik transfer Zidane selama ini, baiknya ia meneruskan langkahnya dengan menggaet pemain muda dengan harga yang normal-normal saja.
Selain harga, kebutuhan Madrid sesungguhnya ada di striker murni. Sisi kiri, jelas ada Ronaldo dengan pelapis Asensio. Sisi kanan ada Bale dengan pelapis Vasquez. Sedang di ujung tombak ada Benzema dengan pelapis Borja Mayoral. Mbappe barangkali komplit dengan bisa bermain di winger, second striker, juga bomber. Tapi kemampuan itu tidak benar-benar dibutuhkan Real Madrid. Apalagi dengan harga 180 juta poundsterling!
Jika memang mau membeli pemain dengan harga selangit, Hazard-lah orang yang tepat. Hazard hanya minus di kemampuan bomber. Dan itu jauh lebih aman, sebab ada Ronaldo yang bisa digeser ke ujung tombak, mengingat kemampuan fisiknya yang jelas menurun dimakan usia. Itu akan lebih mengamankan ruang gerak rotasi yang akan dilakukan Zidane musim depan.

Jika Zidane bersikukuh membiarkan Ronaldo di posisinya saat ini dan merasa membutuhkan bomber, Dolberg adalah alternatif yang layak dipertimbangkan Zidane. Selain harganya yang murah, Dolberg juga bisa menjadi bagian dari strategi jangka panjang yang dicanangkan Zidane. Usianya baru 19 tahun. Benzema mungkin akan menjadi pemain utama yang dipilih oleh Zidane di ujung tombak. Tapi seperti halnya Ronaldo, Benzema tak lagi muda dan pasti akan dipangkas waktu bermainnya. Ruang itu bisa menjadi kompetisi bagi Borja dan Dolberg. Usia keduanya masih sangat muda. Gelora persaingan tentu masih sangat besar. Itu yang akan memunculkan kemampuan keduanya. Jadwal pertandingan yang padat juga akan banyak memberikan kesemptan bagi keduanya untuk mendapatkan waktu bermain.
Dolberg dan Borja bisa menjadi masa depan Madrid. Benzema barangkali tak lama lagi akan hengkang mengingat usia dan kebutuhan Madrid yang pasti juga akan berubah juga.
Pembelian Mbappe juga mungkin akan menjadikan goncang skuat. Kemampuan bermain di berbagai lini tentu memakan korban. Jika dimainkan di kiri dan menjadi pelapis Ronaldo, maka otomotis akan terjadi penumpukan lagi di Attacking Mieldfelder dengan menarik Asesnsio di lini tengah. Ini akan menjadikan peminjaman James sebagai pengurangan ruang lini tengah terasa sia-sia. Sebab sudah ada Cabellos, Isco, dan Kovacic yang sedang berubut ruang. Menambah =kan Asensio ke lini tengah tentu akan membuat persaingan semakin rumit dan berpotensi merusak skuat. Jika dimainkan di kanan, akan ada Bale dan Vasquez yang berpotensi hengkang. Bale masih santer dikabarkan pindah ke MU. Sedang Rafael Benitez sudah mengindikasikan hasratnya untuk memboyong Vasquez ke St. James Park, markas Newcastle United yang baru saja promosi ke Premier League.

Mbappe dengan skillnya mungkin banyak diyakini akan menjadi pemain hebat di masa mendatang. Tetapi dengan harga setinggi itu, masih banyak yang meragukan kepantasannya. Pertimbangan lainnya, ada pada kekohoan komposisi skuat yang ada. Maka Dolberg adalah alternatif terbaik bagi Madrid. Mbappe mencetak 25 gol musim lalu di semua ajang, terpaut 2 gol dari Dolberg yang mencetak 23 gol di semua kompetisi. Kemampuan tak jauh berbeda Mbappe. Yang jelas-jelas terlihat perbedaanya adalah -tentu saja- soal harga. 

Rabu, April 12, 2017

,
Ia lahir di Torrejon de Ardoz. Tempat dimana Ramon Narvaez dan Antonio Seoane pernah memberontak pemerintahan Espartero. 1843, tepatnya. Yang 133 tahun kemudian, lahir manusia yang -- oleh entah siapa--, diberi nama Jose Maria Gutierrez. Ia memiliki potensi besar ketika mulai bermain sepakbola di akademi, memahat mimpi dan menapaki tangga-tangga menuju impiannya menjadi pemain Real Madrid. Ibukota negaranya yang juga merupakan kota kelahirannya. Ia memulai kariernya benar-benar dari dasar. Menapaki Madrid, C, B hingga berhasil merangsek ke level senior. 19 tahun ketika itu, ia menjalani debut melawan Sevilla, merasakan atmosfer sepakbola profesional yang ia dambakan. Bersama Raul Gonzalez, Iker Casillas, ia menjadi pemain muda yang diharapkan mampu membawa tonggak estafet kejayaan Los Blancos. Raul menjawab dengan torehan 324 dari 741. Casillas menjadi penjaga gawang tak tergantikan sampai beberapa tahun sebelum hengkang. Keduanya mendapatkan tempat yang benar-benar layak sebagai pemain profesional di Madrid. Dan Guti?
Guti tidak pernah bisa hidup dengan tenang bersama kemampuan dan daya magisnya yang luar biasa. Tidak ada yang meragukan betapa jenius pemain ini dalam memberikan asisst dan menempatkan posisi bola dengan kemampuan olah bola di atas rata-rata. Tetapi ia tidak bisa benar-benar manjadi pemain yang mendapatkan ruang di dalam pikiran para pecinta bola.  
Antonio Cassano mengatakan bahwa ia beruntung dan bahagia pernah bermain bersama 3 pemain yang fantastis. Ronaldo, Zidane, dan Guti. Ronaldo dan Zidane mendapatkan ruang yang layak dengan kemampuan olah bola dan prestasi yang mereka dapat. Tapi Guti bernasib lebih sial dari keduanya. "Guti memiliki kualitas yang fantastis. Ia berada dalam dimensi yang lain. Guti tetap bermain bagus ketika ditempatkan di lini tengah, diberi tugas sebagai playmaker, serta sebagai pemain sayap."
"Ia juga pribadi yang menyenangkan. Semua orang berbicara hal-hal positif tentangnya. Namun ia tidak konsisten. Kadang ia berlatih dengan baik. Tapi pada kesempatan lain tidak. Ia juga tiba-tiba menghilang dari latihan dan tidak ada yang tahu keberadaannya," ungkap Cassano.
Florentino Perez, serta Ramon Calderon membangun Real Madrid dengan pemain bertabur bintang, namun tetap berharap pemain akademi bisa bersaing disana. Guti menjadi salah satu bagian dari keingin keduanya -Ramon Calderon khususnya- untuk menjadi pemain yang tumbuh di tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu ini. Tapi ekspektasi tersebut, bagi Guti, tidak benar-benar menjadi nyata. Ia berada di bawah bayang-bayang pemain yang lain. Antara gagal dan tidak. Ia menjadi pemain yang angin-anginan soal performa. Meski tetap tidak ada yang meragukan kemampuannya.
Seperti yang dikatakan Cassano, ia mampu memainkan peran di berbagi posisi. Tapi dari kemampuannya itulah, ia malah  tidak mendapat tempat yang layak. Ia di plot menjadi pengganti Seedorf ketika pemain asal Belanda tersebut hengkang ke Inter Milan. Ia diharapkan mampu mengisi posisi tengah dengan baik. Satu musim berjalan, Guti sedang mencoba membangun dirinya menjadi seorang playmaker yang baik, tetapi kebijakan skema pelatih berubah. Cederanya Fernando Morientes membuat ditempatkan mengisi posisi Striker. Pun pula sebab lini tengah sudah di isi oleh pemain termahal yang didatangkan ketika itu, Zinedine Zidane.
Di lini depan, ia berhasil mencetak 14 goal dalam satu musim. Torehan yang cukup baik mengingat ia bukanlah seorang striker murni. Tapi datanglah Ronaldo, mengisi ruang yang ditinggalkan Morientes dan telah ia isi musim lalu. Maka tidak bisa tidak, Guti harus bergeser kembali ke posisi yang lain. Hal tersebut membuatnya gerah. Ia tidak mendapatkan ruangnya dan membiarkan talenta yang sebenarnya muncul dari posisi yang seharusnya ia tempati. Ia merasa selalu hanya dijadikan sebagai bayang-bayang saja.
“Semua pintu tertutup untukku. Aku berkembang sebagai gelandang dan Zidane tiba. Aku membaik sebagai striker dan Ronaldo tiba. Saya sekarang di tim nasional sebagai gelandang dan Beckham datang.”
Berseragam Real Madrid selama 15 tahun, Guti hampir tidak pernah mendapatkan ruangnya sendiri. Terlepas dari sifatnya yang seringkali kontroversial, loyalitasnya pada Madrid tentu tidak layak diragukan. Jika tidak ada perseteruan dengan Pellegrini, barangkali nomor 14 masih akan bertuliskan namanya sampai memutuskan gantung sepatu. Meski -mungkin- juga tetap hanya sebagai bayang-bayang.



Follow Us @soratemplates